liga 2
Informasi

Praktik Match Fixing Kembali Nodai Dunia Sepakbola Nusantara yang Baru Ingin Bangkit

Sepakbola Indonesia kembali tercoreng dengan adanya kasus match fixing atau pengaturan skor. Praktik tidak terpuji ini terjadi pada kompetisi di Liga 2, dan bahkan terulang kembali di Liga 3.

Tentunya banyak masyarakat yang geram akibat tindakan sangat tidak sportif ini. Karena praktik ini akan menghancurkan sepakbola Indonesia sendiri.

Nah, bagaimana praktik pengaturan skor ini terjadi pada kompetisi liga yang terjadi beberapa waktu lalu ini?

Pengaturan Skor di Liga 2

Dalam kasus ini Ketua Komdis PSSI, Erwin Tobing menceritakan kronologi pengaturan skor yang terjadi pada laga Perserang Serang melawan Rans Cilegon FC. Saat itu, salah satu pemain Perserang Serang, Eka Dwi Susanto mendapatkan telepon dari orang luar. Dalam telepon tersebut timnya diminta untuk kalah dengan iming-iming Rp 150 juta.

Permintaan yang ditujukan kepada Eka Dwi Susanto ini adalah timnya harus kalah 2-0 pada babak pertama melawan Rans Cilegon FC. Tidak hanya saat melawan Rans Cilegon FC saja, dia juga diminta untuk kalah saat melawan Persekat Tegal.

Eka Dwi Susanto kemudian mengajak teman-temannya untuk memenuhi permintaan tersebut. Total ada 5 orang yang diajak, mereka ada yang aktif mengajak teman lainnya, dan ada yang pasif, namun tidak melaporkan.

Indikasi pengaturan skor ini pun dicium oleh Komdis PSSI. Sehingga dilakukan sidang dengan bukti yang sudah ada. Dalam sidang tersebut ditemukan bukti-bukti yang mendukung adanya match fixing ini.

Dari bukti-bukti tersebut akhirnya ada 5 pamain Perserang Serang yang dinyatakan bersalah dan mendapatkan sanksi dari PSSI. Namun demikian, para pemain yang terlibat ini masih mendapat keringanan, karena tidak terpenuhinya permintaan, dan tidak ada bukti transaksi pembayaran yang dilakukan.

Hasil pertandingan antara Perserang Serang melawan Rans Cilegon FC hanya mendapatkan skor 0-0. Sedangkan melawan Persekat Tegal, Perserang Serang kalah dengan skor 1-3.

Hasil Putusan Sidang Pengaturan Skor

Dari sidang yang dilakukan, ada enam keputusan yang melibatkan para pemain Perserang Serang. Putusan ini merupakan sanksi kepada para pemain yang terlibat dalam pengaturan skor tersebut.

  1. Eka Dwi Susanto mendapat sanksi selama 60 bulan larangan beraktivitas dan masuk stadion, serta mendapat denda sebesar Rp 30 juta.
  2. Fandy Edy mendapat sanksi 48 bulan larangan beraktivitas, dan masuk stadion, serta denda sebesar Rp 20 juta.
  3. Ivan Juliandhy mendapat sanksi 24 bulan larangan beraktivitas, dan masuk stadion, serta denda sebesar Rp 10 juta.
  4. Ade Ivan Hafilah mendapat sanksi 36 bulan larangan beraktivitas, dan masuk stadion, serta denda sebesar Rp 15 juta.
  5. Aray Suhendri mendapat sanksi 24 bulan larangan beraktivitas, dan masuk stadion, serta denda sebesar 10 juta.
  6. Muhammad Diksi Hendika mendapat sanksi 12 bulan larangan beraktivitas, dan masuk stadion, serta denda sebesar Rp 10 juta.

Pengaturan Skor Terulang di Liga 3

Belum lama kasus pengaturan skor terjadi di Liga 2, muncul indikasi di Liga 3 Jawa Timur. Pengaturan skor ini terjadi pada laga Gestra Paranane Vs NZR Sumbersari. Komdis Asprov PSSI mendapatkan laporan pengaturan skor tersebut, dan bergerak cepat.

Bukti-bukti pun sudah dikumpulkan dan berhasil menemukan dua nama pemain Gestra Paranane Gresik dan officialnya. Bahkan dua pemain dan official tersebut sudah resmi dipecat oleh pihak klub.

Praktik pengaturan skor ini sangat mencoreng dunia sepakbola Indonesia, dan dikhawatirkan akan menurunkan kualitas sepakbola Nusantara. Karena itulah PSSI memberikan sanksi sangat berat kepada para pemain atau official yang terlibat. Ikuti berita sepakbola nasional terbaru dan terlengkap disini, jangan sampai ketinggalan!